Coming Back

Desember 7th, 2010

Setelah sekian lama, ummm, setahun mungkin, meninggalkan blog ini…
Melihat masih lumayan banyak yang berkunjung dan ninggalin comment…
Nampaknya sekarang mau kembali mengaktifkannya…
Kembali sharing sama temen2 di dunmay…

Yesss, i’m coming back…

Izin Sama Allah Ga?

Oktober 13th, 2009  Tagged

Biarin aja deh, latah ikut-ikutan nulis tentang Putri Indonesia 2009. Di blog-blog orang, di forum, milis, banyak orang yang ngomentarin kalo Qory Sandrioriva, which is Putri Indonesia 2009 itu ga pinter lah, ga cantik lah, dan berakhir ke pertanyaan “kok bisa sih dia yang menang?”

Dan, kemenangan Qory pun mengundang kontroversi, karena statement nya yang kalo kata orang Jawa “mencla-mencle” alias ga konsisten ketika ditanya tentang jilbabnya. Di atas panggung dia bilang ga pake jilbab di Pemilihan Putri Indonesia 2009 atas seijin pemda Aceh, sedangkan saat diwawancara dia bilang emang sehari-hari ga berjilbab. Lalu, jadi kebanyakan berspekulasi kemenangan Qory yang disengaja biar mengundang kontroversi, atau malah untuk memperkeruh suasana, terkait dengan pro-kontra penerapan syariah Islam di Aceh.

Kalo gue sih, ga peduli mau dia pake jilbab atau ga. Gue juga ga bilang dia ga cantik, atau ga pinter. kalo cantik pasti lah, dia cantik walaupun yang lain juga banyak yang lebih cantik. Kalo masalah pinter gue ga tau ya, terlepas jawabab dia pas di 3 besar yang menurut gue agak-agak aneh. Gue juga ga peduli kenapa dia bisa menang. Yang pasti juri punya penilaian sendiri.

Yang gue sayangin itu pernyataan dia di depan seluruh penonton PPI 2009. Dia bilang, dia udah ijin Pemda Aceh buat ga pake jilbab. Aduh de’, plisss donk!!! Nyadar ga sih kalo omongan loe itu provokatif banget? Gue sampe pengen ngamuk dengernya. Statement itu bisa bikin orang-orang (apalagi yang non muslim) berpikiran “Oooo, jadi berjilbab itu karena kewajiban Pemda ya?”

Jilbab itu kewajiban dari Allah lho, bukan kewajiban dari Pemda. Kalo dia ijin ke Pemda pake alasan “rambut adalah keindahan, dan saya bangga dengan keindahan”, lalu kira-kira dia ijin ke Allah ga ya? Alasannya kira-kira apa ya pas dia ijin ke Allah?

Lebaran = Priceless

Oktober 12th, 2009  Tagged

Idul fitri 1430 hijriah, bisa dibilang adalah idul fitri paling spesial selama 22 tahun gue bernafas di dunia ini. Kenapa paling spesial? Karena ini lebaran pertamaku dengan status sebagai seorang istri. Yep, ISTRI.

OK, sedikit mundur ke belakang. Mundur lagi dikit. Stop stop stop, kejauhan. Tuh kan nabrak pager….  :)

Hmm, maksud gue sedikit flashback, ke tanggal 19 Juli 2009. Hari itu, gue resmi kawin nikah sama seorang lelaki nan tampan, baik hati, tidak sombong, suka menolong, ramah tamah, serta rajin menabung.

Yang ini nih potonya :

sah...

Lalu, baru seminggu menikmati peran sebagai seorang istri, bahkan hornymoon honeymoon aja belum sempat, suami gue harus meninggalkan istrinya yang paling cantik ini selama 12 hari sendiri di Jakarta, sementara dia berada nun jauh di Manado. Huuuufffhhhhh…

Yang lebih parah lagi, baru sehari suami pulang dari Manado, kabar buruk pun datang. Suami gue harus segera berangkat untuk menjalankan tugas sebagai abdi negara di Payakumbuh. Ada yang ga tau dimana Payakumbuh? Tanya aja sama om google.

OK,  singkat cerita sejak 17 Agustus 2009 kami menjalani LDR Jakarta-Payakumbuh. Itu berarti gue harus berangkat-pulang kantor sendirian naik metromini, budget untuk pulsa membengkak, tambahan satu pos di Anggaran Pendapatan dan Belanja Keluarga yaitu tiket pesawat Jakarta Payakumbuh PP, weekend sepi di kosan dan bla..bla..bla…

Soooo, idul fitri ini jadi momentum yang sangat tepat bagi kami berdua untuk melepaskan rindu ( cuiittt cuiittt…) setelah sebulan tak berjumpa. Mau tau kegiatan kami? Ketik REG CINTA kirim ke 1111. Ini dia :

Jumat, 18 September 2009 : Hari pertama cuti bersama. Suami pulang ke Jakarta.

Sabtu, 19 September 2009 : Kita berdua mudik ke tanah kelahiran gue, Kudus. Dengan kereta kamandanu Gambir-Semarang Tawang, yang dilengkapi dengan AC yang mati sejak tengah hingga akhir perjalanan, sampailah kami di semarang dengan bermandi keringat selamat. Perjalanan dilanjutkan dengan mobil tua bokap, alhamdulillah kami tiba di rumah tercinta, dimana garang asem sudah tersedia di meja makan untuk segera disantap sebagai menu berbuka puasa.

Di Gambir yang rameeeee banget:

19092009492

Foto di Kamandamu yang panasss, bobo aja deh:

190920095081

Minggu, 20 September 2009 : Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar… Laa illaha ilallahu Allahu Akbar… (Ceritanya backsoundnya takbir). Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong ibu pake baju sama celana dulu donk! Terus siap-siap berangkat Sholat Idul Fitri di masjid dekat rumah.
Setelah itu, menjalankan tradisi sungkeman yang wajib ada di keluarga kecil maupun keluarga besar gue. Semua keluarga dari pihak ibu berkumpul, ada nenek, kakek, budhe2, pakdhe2, bulik2, om2, kakak2, ade2. Berbaris mulai yang tua sampai yang paling muda, sungkeman, tangis-tangisan, dilanjut makan-makan.

Siap-siap berangkat sholat ied:

20092009518

Senin, 21 September 2009 : Dari jauh-jauh hari suami gue udah request pengen diajak makan ikan bakar di pinggir pantai Bandengan, Jepara. Jadilah hari itu kita pergi kesana. Biarpun hari itu panas menyengat, biarpun harus antri tempat duduk dan nunggu lama buat makan ikan bakar sama kepiting asam manis, biarpun kulit kebakar matahari, apalah artinya dibandingin sama kebahagiaan berkumpul sama keluarga. Gue, suami gue sama ade2 gue sempet nyobain main kano juga (sayangnya foto canoeing nya ga ada). Seruuuuu…

My hubby mukanya serius banget kepedesan makan seafood:

21092009581

My beloved parents :

210920095831

forever newlyweds:

21092009615

21092009612

21092009013

My luvly sizta n bro :

21092009596

Selasa, 22 September 2009 : Kami berdua harus kembali ke Jakarta. Kali ini naik Argo Muria yang jauh lebih OK fasilitasnya dibanding Kamandanu. Sampai gambir jam 10 malem, kami dijemput keluarga suami.

Rabu, 23 September 2009 : Kali ini giliran ngumpul sama keluarga suami. Sorenya kami sempet jalan-jalan ke Masjid Kubah Mas Depok.

Sayangnya ga sempet poto-poto, ini doank gpp ya, gambar di dalem masjid :

23092009025

Segitu aja dulu deh, cerita lebarannya.  Yang pasti lebaran ini walaupun buat sebagian orang biasa banget, tapi buat gue spesial banget. Gue bisa barengan suami dalam waktu yang lumayan lama (yep, buat kami 10 hari itu sangat berharga), gue bisa ngumpul sama keluarga kecil dan besar gue, juga keluarga suami gue. Dan semua moment itu = priceless, tak ternilai.

Smoga besok, atau entah kapan itu ada keajaiban berupa pemindahan tugas suami gue ke Jakarta atau sekitarnya, biar kita bisa barengan lagi, ga terpisah jarak kaya gini lagi. Biar ramadhan dan idul fitri tahun depan kami bisa full barengan. Amiiin…

Merah dan Putih

September 3rd, 2009  Tagged

Suatu sore, sepasang kekasih (merah dan putih) sedang berbincang hangat sembari menunggu waktu berbuka puasa.

Merah : Putih, sadarkah engkau, kita sudah tak seperti dulu lagi?

Putih : Iya, kau sudah nampak menua sekarang.

Merah : Bukan itu yang kumaksud. Usia kita memang sudah tak muda lagi, kerut-kerut diwajahku sudah tak bisa kututupi lagi. Penyakit sudah bermunculan di tubuhku. Namun, yang paling membuatku sedih adalah di usia kita yang sudah 64 tahun ini, banyak sekali yang hilang dari diri kita, sebanyak rambutku yang satu per satu hilang dari kepalaku. Gigikupun tanggal satu per satu. Dulu wajahke begitu tampan. Semua orang memuja ketampananku. Tapi kini pesonaku sudah menghilang.

Putih : Hmmm, engkau betul duhai sayangku. Tak hanya engkau yang kehilangan helai demi helai rambut, juga gigimu. Tapi aku juga. Potret diriku kini juga banyak yang memudar. Dan kini digantikan oleh potret-potret orang asing itu.

Merah : Apakah aku yang salah, karena tak pandai merawat diriku? Hingga Tuhan marah padaku?

Putih : Bukan sayang, akulah yang salah. Aku terlalu mudah disilaukan oleh indahnya dunia, sehingga pudar imanku.

Merah : Jadi kini apa yang bisa kita lakukan untuk mengembalikan semuanya seperti semula? Apa yang bisa memperbaiki keadaan ini? Apakah kita harus meminta bantuan orang lain untuk membantu kita?

Putih : Sudahlah, mari kita kembali ke rumah, sebentar lagi waktunya berbuka puasa. Kita tunggu saja, apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sesaat kemudian, rumah mereka habis terbakar hanya karena lupa mematikan kompor.


Percakapan diatas saya gunakan untuk menggambarkan negara kita saat ini. Merah dan Putih, seperti warna bendera negara kita. Merah menggambarkan raga negara kita yang gagah berani. Putih menggambarkan jiwa kita yang suci.

Usia negara kita memang tak muda lagi untuk ukuran manusia. Seperti halnya yang dialami Si Merah. Di usia 64 tahun, keriput-keriput tanda ketuaan sudah tak bisa dipungkiri lagi. Penyakit-penyakitpun bermunculan. Seperti negara kita. Kerusakan terjadi di sana sini. Banjir, tanah longsor,  kebakaran, terorisme, kecelakaan. Masih banyak lagi.

Lalu ditambah apa yang dialami si putih. Potret diri negara kita sudah mulai memudar. Negara kita, yang dulu dikenal karena keramahannya, toleransinya, dengan adat ketimuran yang begitu kuat, mempesona semua mata. Tapi kini adat ketimuran kita sudah hilang ditiup angin barat. Lebih parah lagi, orang lebih mengenal kita sebagai negara yang kejam, sarang teroris.

Yang lebih mengiris hati, satu per satu bagian negara kita hilang, seperti tanggalnya gigi dan rontoknya rambut si Merah. Kain tradisional kebanggaan kita, batik, sudah diklaim negara tetangga sebagai miliknya. Reog Ponorogo, tari pendet, lagu rasa sayange juga dicap sebagai miliknya. Lalu Pulau Ligitan dan Sipadan yang akhirnya harus dilepaskan dari NKRI. Bagaimana nasib kebudayaan kita selanjutnya? Sampai kapan mereka akan terus mengambil identitas kita? Bagaimana nasib pulau-pulau kecil di perbatasan negara kita? Berapa banyak lagi potensi kekayaan alam dan budaya yang akan dicuri kucing tetangga?

Janganlah kita selalu menyalahkan pihak lain atas apa yang terjadi di negara kita. Jangan hanya bisa berteriak sana sini, tapi tak ada tindakan nyata. Jangan hanya menuduh pihak lain pencuri yang tak tahu diri, padahal kita juga tak menghargai diri kita, alam, negara kita, budaya kita.

Semua bencana yang kita alami adalah ujian, juga teguran dari Tuhan. Beberapa bencana memang tak dapat kita duga kapan datangnya. Tapi sadarkah kita, banyak bencana yang kita ciptakan sendiri?Kita lupa untuk bersahabat dengan alam. Kita sungguh egois, hanya mementingkan diri kita sendiri. Bahkan buang puntung rokok yang begitu kecil di sembarang tempat bisa menyebabkan kebakaran. Buang sampah di sungai bisa menyebabkan banjir. Penebangan hutan secara liar bisa menyebabkan banjir dan tanah longsor.

Baru beberapa tahun belakangan batik kembali dipopulerkan, dengan motif, warna dan model yang menarik. Coba kita ingat, sepuluh tahun lalu, apa ada anak muda yang memakai batik? Jangan membohongi diri sendiri, saya yakin jawabannya tidak. Batik hanya dianggap sebagai pakaian kakek nenek saat pergi ke kondangan. Pengusaha batik banyak yang tak lagi bisa bertahan, menutup usahanya. Lalu, saat batik diklaim sebagai milik Malaysia, kita hanya bisa berteriak-teriak, mengeluarkan sumpah serapah untuk  Malaysia. Padahal di sisi lain, orang Indonesia lebih bangga menghabiskan waktu libur di Genting atau Menara Petronas, daripada di Pulau Sikuai.

Bagaimana dengan lagu, tarian, ataupun kesenian daerah kita? Coba tanya ke generasi muda kita, lebih hafal mana antara lagu Rasa Sayange, atau Umbrella nya Rihanna? Lebih berminat mana, antara belajar tari kecak, atau breakdance?

Kita memiliki lebih dari 17 ribu pulau dengan 200 juta lebih penduduk. Kita memiliki banyak sekali potensi alam, potensi wisata, dan potensi budaya. Mengapa kita lebih bangga menggunakan baju dari desainer luar negeridaripada batik? Mengapa kita lebih bangga berwisata ke luar negeri daripada ke Pulau Bali? Mengapa kita lebih bangga menguasai ballet daripada tari piring?

Lalu apa jawaban kita atas pertanyaan Si Merah? Apa yang bisa kita lakukan untuk negara kita?Ataukah kita hanya pasrah, membiarkan negara kita seperti rumah Merah dan Putih yang hangus dilalap si jago merah karena kita lengah?

Jawaban saya : mulailah dengan mencintai dan menghargai diri kita sendiri. Jika kita sudah bisa mencintai dan menghargai diri kita sendiri, kita akan bisa mencintai dan menghargai orang lain. Dari situ kita bisa belajar mencintai dan menghargai bangsa dan negara kita. Tanah air kita. Kebudayaan kita. Kemudian kita akan memiliki kebanggaan Tak hanya raganya saja, tetapi juga sepenuh jiwa. Tak hanya di bibir saja, tapi juga dengan tindakan nyata. Dengan semangat merah dan putih. Raga dan jiwa. Bangga sebagai Bangsa Indonesia.

Lalu, apa jawaban Anda?

Ajari Kami dengan Teladanmu

Juli 31st, 2009

Kami adalah manusia-manusia dewasa yang telah berkomitmen untuk menyempurnakan separuh agama kami dengan menikah…

Kami adalah manusia-manusia dewasa yang telah memilih untuk berbagi suka dan duka dalam hidup kami…

Kami adalah manusia-manusia dewasa yang baru memulai perjalanan kami, mengarungi hidup berdua sampai akhir hayat…

Biarkan kami menjalani semua wajar, apa adanya.

Biarkan kami menentukan sendiri jalan mana yang akan kami lewati.

Biarkan kami belajar seiring berjalannya waktu, dengan melihat, mendengar, merasa.

P.S : Ungkapan hati seorang istri yang sedang kesal dengan orang yang selalu berusaha menanamkan gambaran buruk tentang masa depan kehidupan pernikahan. Ajari kami dengan teladanmu jika kamu memang dewasa. Ajari kami dengan nasehatmu jika kamu memang tahu…

Bocah Kampung Main Internet

Juli 7th, 2009  Tagged

Suatu hari di tahun 1999, seorang bocah kampung dengan penuh percaya diri mengajak dua orang teman sekolahnya untuk pergi ke sebuah Warung Internet. “Kita ke warnet yuk, kata Mbakku ntar di warnet kita bisa bikin email, chatting, kenalan sama temen-temen baru, seru pokoknya,”ujarnya.

Lalu berangkatlah tiga bocah berseragam putih-biru ke warnet dengan mengendarai motor curut (matic) kesayangannya. Sesampainya di warnet, Mbak penjaganya bertanya, “Mau berapa komputer?” lalu dijawablah, “1 aja Mbak.” Maklumlah, saat itu tarif rental internet sebesar Rp 7000/jam terbilang cukup mahal untuk ukuran kantong bocah kampung.

Duduklah tiga bocah tersebut di depan sebuah komputer. Lalu, mulailah tiga bocah kebingungan dengan apa yang harus dilakukan. Namanya juga bocah kampung, cara menggunakan mouse pun tak ada yang tahu, apa fungsinya klik kanan dan klik kiri. Bukan berarti tiga bocah belum pernah mengoperasikan komputer sebelumnya, tapi komputer tua di sekolah mereka tidak memiliki mouse. Les komputer yang pernah diikuti di sekolah juga tak pernah mengajarkan bagaimana cara menggunakan mouse. paling-paling diajari bagaimana membuat banner nama masing-masing dengan huruf yang bagus dan bisa dibuat melengkung-melengkung. Dasar bocah kampung, saat tulisan namanya di-print saja sudah girang dan bangga bukan main. Bahkan disket tipis selebar roti tawar yang digunakan untuk menyimpan banner nama itu masih disimpan sampai sang bocah kampung lulus SMA.

Setengah jam berlalu, dan tiga bocah masih tak tahu harus melakukan apa. Setelah melakukan berbagai eksperimen akhirnya disimpulkan bahwa dengan menggeser letak mouse, lalu meng-klik di sebelah kanan mouse, akan muncul banyak pilihan, diantaranya open, copy, dan masih banyak lagi. Lalu, jika di-klik kiri, maka program akan berjalan. Hmm, sebuah kemajuan.

Setengah jam berlalu lagi, dan tak ada kemajuan apa-apa. beberapa kali meng-klik kiri tapi program yang berjalan adalah microsoft word, dan game kartu remi. Mana internetnya ya? Tiga bocah berkasak-kusuk, dan saling memberi saran, “Bertanyalah ke penjaganya”. Tapi tak ada satupun yang mau dengan alasan malu. padahal di sekolah sudah pernah diajari pepatah “Malu bertanya sesat dijalan”, tapi ketiga bocah tetap memilih tersesat di warnet. Beberapa menit kemudian, di layar komputer yang mereka hadapi muncul sebuah kotak dengan tulisan “Bisa ga? Ntar tak sun (cium-red) lho, kalau ga bisa.” dan tiga bocah kampung bingung, darimana asal tulisan itu? Mau membalasnya, tapi tak tahu bagaimana caranya. Selang beberapa menit, muncul lagi kotak itu, dengan kata-kata yang hampir sama. Akhirnya, karena malu, tiga bocah kampung pergi dari warnet itutanpa hasil apapun  setelah membayar Rp 9.000 kepada penjaga warnet yang tersenyum-senyum setelah menerima pembayaran.

Dua tahun kemudian, saat bocah kampung sudah duduk di bangku SMA, seorang temannya mengajaknya ke warnet depan sekolah. Sang bocah kampung hanya duduk di sebelah temannya yang sedang asyik di depan komputernya, menjelajah dunia maya lewat internet. Dari situ akhirnya sang bocah mempelajari banyak hal, antara lain bahwa untuk mengakses internet diperlukan adanya gambar kecil di layar yang berbentuk huruf “e” berwarna biru. Lalu gambar iku di-klik kiri 2 kali untuk menjalankan programnya. Kemudian muncul halaman internet explorer yang masih kosong. Di kotak panjang di sebelah atas, kita ketik alamat website yang kita tuju, misalnya www.google.com, lalu tekan enter.

Berbekal kesimpulan yang diambil, di hari berikutnya sang bocah datang lagi ke warnet, kali ini sendirian, karena trauma mengajak teman, takut  akan kembali mengalami kegagalan dan harus menanggung malu lagi. Akhirnya di hari itu, sang bocah berhasil mengakses www.google.com. betapa bahagianya, setelah sekian lama akhirnya berhasil juga bermain-main dengan internet. Setelah pengalaman pertamanya itu, sang bocah kecanduan terhadap internet, apalagi setelah mengenal MIRC. Hampir setiap hari sepulang sekolah pasti menyempatkan diri mampir ke warnet.

Kebiasaan ini berlanjut hingga sang bocah lulus SMA dan merantau ke ibukota negara untuk menimba ilmu. Disini ia mulai berkenalan dengan friendster. Kecanduannya akan internet semakin menjadi-jadi. Berkenalan dengan teman-teman baru lewat Friendster.. Apalagi dosen-dosen sering memberi tugas yang jawabannya dicari di internet atau juga dikirim lewat email. Mulai tahap ini internet menjadi sangat bermanfaat, tak hanya digunakan sebagai ajang mencari teman.

Di tahun 2007, sang bocah lulus kuliah dan mulai bekerja di suatu instansi pemerintah. Dia diberi tugas untuk mengelola website unit tempatnya bekerja. Hal ini berarti 5 hari dalam seminggu, mulai jam 07.30-17.00, dia diharuskan berhadapan dengan komputer dan internet. Disitulah ia mulai mengenal blog. Beberapa blog gratis dicobanya. Sesuai ungkapan “hangat-hangat tahi ayam”,  semua blog itu mati setelah beberapa bulan.

Suatu hari, www.detik.com memberikan suatu layanan baru yakni blog. Awalnya bocah kampung belum tertarik, karena tahi ayamnya belum hangat. Lama kelamaan, setelah blogwalking kesana kemari, tahi ayamnya hangat lagi ketertarikan untuk nge blog muncul lagi. Apalagi melihat pertemanan diantara Detik Blogger yang sangat erat. Akhirnya sang bocah kampung membuat blog ini, endahhh.blogdetik.com, sebagai tempat sampah tempat mencurahkan isi hati, berbagi pengalaman, juga menambah teman baru. Walaupun tak selalu update, tapi setidaknya blog ini adalah rumah yang paling nyaman bagi coretan-coretannya. Terimakasih blogdetik.

Manohara… Oh… Manohara…

Juni 17th, 2009

Dulu, awal kemunculan berita Manohara di TV, gw bener-bener terharu sama kasus yang menimpanya. Tiap pagi, sebelum berangkat kerja, dengan setianya gw nongkrongin infotainment cuma buat liat perkembangan kasus Manohara. Bahkan di kantorpun gw masih aja browsing segala sesuatu tentang Manohara (sebelum ada kasus ini gw belum pernah tau sih, siapa manohara). Waktu itu yang ada di pikiran gw, “kasian banget sih, bocah baru gede gitu udah harus nanggung penderitaan akibat ulah suaminya sendiri”.

Lama kelamaan, gw agak bored juga kali ya, ngliat tiap hari ibunya muncul di TV (udah bukan cuma di infotainment) dan setiap kali muncul yang diomongin cuma itu-itu aja. Manohara dikurung di kamar, ga boleh kemana-mana, dadanya disilet-silet. Yang bikin gw jadi agak-agak ilfeel juga, ibunya selalu ngulang-ulang cerita kalo Mano terpaksa nikah, karena dia kecolongan, Mano pernah diperkosa Fakhry. Lah, anaknya diperkosa kok malah digembar-gemborin, berulang-ulang lagi! Udah gitu, dia selalu bilang kalo pemerintah Indonesia ga tanggap, membiarkan warga negaranya disiksa di luar negeri. Pemerintah bisa berbuat apa kalo status kewarganegaraannya aja ga jelas. Lagian kan pemerintah udah coba bantu dengan mengirimkan surat ke Kelantan. Tapi masih aja pemerintah dijelek-jelekin.

Sampe disitu aja gw udah agak-agak males, karna gw pikir ada beberapa hal yang janggal. Katanya udah beberapa bulan (sejak tragedi umrah) Mano ga pernah sekalipun menghbungi ibunya, kecuali sekali yang diliput infotainment rekamannya beredar luas itu. Gw juga denger kok rekaman lengkapnya dari internet, ga ada sedikitpun bahas adanya penyiletan dada. Yang ada cuma Mano nangis dan ibunya nyuruh sabar. Trus, ibunya bisa ngomong ke infotainment kalo dada Mano disilet-silet sumbernya darimana ya?

Pas Mano bisa kembali ke Indonesia, gw ikut seneng juga. Gw ngikutin lagi tuh, perkembangannya di infotainment. Sehari, dua hari, kok isinya itu-itu mulu, padahal di acara dan stasiun TV yang beda. Gw makin males nih, sampe sini. Katanya disiksa, tapi kok sikapnya ga nunjukin adanya trauma atau kesedihan gitu. Malah hahahihi, asyik foto-foto (bahkan pas masih di pesawat), dan asyik nampang di media. Dari pernyataannya juga ada yang aneh menurut gw. Katanya dia dikurung di ruang rahasia, yang ga dikasih hiburan apapun, terus semua tingkahnya dipantau nonstop. Tapi, katanya juga dia nyimpen foto siletan di dadanya. Kalo dipikir-pikir, dia dapet kamera darimana coba? Klarifikasinya sih dia bawa HP, tapi ga ada simcardnya. Bukannya kebanyakan HP tanpa simcard ga bisa berfungsi ya, cuma ada tulisan insert simcard sama SOS call? Kalopun bisa, kan namanya HP pasti butuh dicharge. Berarti dia bisa ngumpetin hp+chargernya tanpa ketauan.  Katanya dipantau 24 jam?

Bener juga kata Ratna Sarumpaet sama OC Kaligis. Mano sama ibunya terkesan kurang serius dan lebih mengutamakan popularitas lewat media. Pas itu gw bilang, paling ntar lagi juga Mano maen sinetron, film, atau iklan, trus juga ikutan di kampanye presiden. Eh, bener juga kan dia udah dikontrak ekslusif bermilyar-milyar buat sinetron, dan dia juga ada di kampanye salah satu capres. Kalo kata Dadang Hawari di salah satu infotainment yang gw tonton tadi pagi, Mano punya cara yang sangat pintar menarik simpati masyarakat. Betul juga, cara yang cerdas untuk meningkatkan popularitas dan nilai jual. Masih kata Dadang Hawari, Mano adalah wanita yang sangat tegar. Setelah menghadapi masalah beratpun dia masih tetap bisa terlihat selalu ceria.

Gw ga meragukan adanya siksaan yang dilakukan Fakhry kepada Mano. Gw juga bukan manusia yang ga punya hati, gw juga simpati dengan apa yang terjadi ke Mano. Cuma gw kok jadi kurang respect sama cara dia. Bukannya segera menyelesaikan masalah, menuntut haknya, tetapi malah lebih mementingkan kepopuleran (yang katanya itu adalah caranya bangkit dari keterpurukan). Manohara yang dulu namanya sangat jarang (bahkan belum pernah) didengar, kini jadi sosok idola baru yang sangat populer. terbukti dengen adanya sinetron berjudul sama dengan namanya yang kontraknya bernilai miliaran, wajahnya yang tiap hari masih saja muncul di infotainment, dielu-elukannya manohara bak seorang pahlawan ketika bertandang ke salah satu kota, diarak dengan kawalan penuh aparat kepolisian, bahkan sampai-sampai jadi ngetren tas dan baju manohara. Perasaan dari dulu tas kaya gitu udah banyak deh, kenapa sekarang namanya jadi tas manohara?

Yah, sudahlah, semoga  Manohara mendapat penyelesaian yang terbaik untuk kasusnya, dan sukses di karirnya. Semoga Fakhry bisa mendapat balasan setimpal jika memang benar semua yang diceritakan Mano itu pernah terjadi.  Semoga Mano bisa membuktikan kalau dia tak hanya menjual nama dengan kasusnya, tapi memang dia memiliki nilai jual tinggi karena kemampuannya.

BTW kalo gw nulis opini kaya gini bisa disomasi atau dipidanakan juga ga ya?

PMS

Mei 19th, 2009  Tagged ,

PMS, which is Pre Marriage Syndrome, not Pre Menstrual Syndrome, adalah suatu fase yang wajar dialami oleh hampir semua “Brides & Grooms to be”. Semakin mendekati “Hari H”, tekanan-tekanan itu terasa semakin menghimpit. Tinggal beberapa bulan tapi undangan yang belum dicetak, seragam panitia belum dibeli, menu catering belum final, konsep dekor belum matang, ditambah lagi dengan membengkaknya budget, kemauan dari 2 keluarga besar yang susah disatukan, dan masalah-masalah lainnya yang berkaitan dengan wedding preparation.Sepertinya segala pikiran tercurahkan hanya ke 1 hal itu. Makan ga enak, tidur ga tenang, kerja ga konsen. Beuh, bikin stress. Jadilah sensitivitas melonjak tinggi. Apalagi yang berkaitan dengan hubungan dengan pasangan (calon suami/istri). Kayanya tiada hari tanpa percekcokan. Cuma gara-gara ga suka sama menu makan malam yang dipilih pasangan, ributnya melebar ke masalah budget pernikahan. Gara-gara salah denger apa yang diomongin, marahnya sampe ke urusan kesetiaan.

Gejala lain PMS, masing-masing jadi overprotect ke pasangan. Posesif malah. Jangankan lihat pasangan jalan dengan pria/wanita lain, makan siang beramai-ramai teman sekantor pun sering bikin jengkel. Bawaannya mau tau aja dia dimana, dengan siapa, sedang apa. Haha, kaya lagunya Kangen Band ya, “Kamu dimana, dengan siapa, semalam berbuat apa”.

Yang paling parah dari PMS adalah timbulnya keraguan terhadap pasangan, dan keraguan terhadap keputusan yang diambil. Seringkali muncul pertanyaan “Apakah dia yang terbaik untukku?” dan juga “Apakah menikah dengannya adalah jalan yang terbaik yang dipilihkan Tuhan?”

Yang sekarang sedang “in relationship”, pas baca tulisan ini bisa aja sekarang ngomong “ga mungkin terjadi ke gw nanti, gw yakin banget sama dia”. Hmm, tunggu saja sampai beberapa bulan menjelang kalian menikah, saat segalanya sudah disiapkan, gw yakin, keraguan-keraguan itu PASTI ADA.

Dari beberapa referensi yang pernah gw baca, sebenernya having doubts about who you are marrying is not only normal, having doubts is healthy. Finding Miss or Mr. Right is not an easy thing to do. Once you think you’ve found the right person, you may have doubts. But what should we do if the doubts continue?Listen to your inner voice.

Akibat yang terburuk dari keraguan-keraguan saat PMS ini adalah BATAL MENIKAH! Ada yang bilang,it’s better to postpone or cancel a wedding than get married to the wrong person or for the wrong reasons. Tapi bisakah dibayangkan, saat semuanya sudah dipersiapkan, bahkan undangan sudah disebar, tiba-tiba salah satu pihak membatalkan pernikahan karena menganggap bahwa dia bukan orang yang tepat? Tak cuma calon pengantin, tapi seluruh keluarga besar akan menanggung malu.

Menurut gw, inti dari PMS adalah egoisme diri. Saat sedang mempersiapkan pernikahan, masing-masing pihak seringkali bahwa dirinya lah yang paling berperan. Sang wanita menganggap bahwa pihak wanita lah yang paling direpotkan mengurus segala sesuatunya, mulai memilih wedding theme, cari catering, perias, beli kain seragam de-el-el, sementara pihak pria tinggal terima beres. Sedangkan sang pria beranggapan bahwa dia yang paling bertanggungjawab berkaitan dengan dana, sementara pihak wanita tinggal menjalankannya saja. Itulah yang mengakibatkan timbulnya sindrom pra pernikahan.

Jadi bagaimana mengatasi, atau setidaknya menguranginya? Semoga beberapa point ini dapat membantu :

  • “A wedding is a day, a marriage is a lifetime.” Jadi ga usah terlalu stress karena mempersiapkan “wedding day”. Yang terpenting adalah mempersiapkan diri untuk “marriage life”,sisa hidup yang akan kita jalani bersamanya.
  • Kurangi egoisme diri. Remember who your wedding is for. It is for the two of you. It is not for your parents, other relatives, or your friends. You are no longer two, but one. Communicate often.Try to encourage and strengthen each other.
  • Untuk menjawab pertanyaan “Apakah dia yang terbaik bagiku?” tanyakanlah pada diri sendiri. “Don’t look to him to fulfill your needs – get to know who he is.” Jangan selalu menuntut pasangan untuk memenuhi kemauan kita, padahal kita ga pernah berusaha mengertinya. Mengenang semua keindahan yang pernah kita lalui bersamanya juga dapat membantu mengembalikan keyakinan kita padanya, dan pertanyaannya bisa diubah, “Apakah aku akan sebahagia ini jika tak bersamanya”. Apa lagi yang perlu diragukan?

Ditulis untuk memenuhi tugas kedua sebagai Mahasiswa Pemula  mahasiswapemula.blogspot.com) dengan tema “Cinta dan Pernikahan”.

Indahnya Langit Banjarmasin

Mei 12th, 2009

Minggu lalu, tepatnya 3-6 Mei 2009 lalu, gw mendapat kesempatan pertama menjejakkan kaki di Pulau Kalimantan, tepatnya di Kota Banjarmasin. Bukan untuk berlibur, apalagi jalan-jalan. Kepergian gw ke Banjarmasin dalam rangka menjalankan tugas Negara, ah berlebihan, tugas kantor lebih tepatnya. Kantor tempat gw ngabdi, bekerjasama dengan SPS ngadain Olimpiade Membaca APBN tingkat SMA tahun 2009, yang diselenggarakan di 10 kota di Indonesia. Dan, peran gw disini adalah sebagai kameramen, ceileeee belagu amat.

Selama dua hari, dari pagi sampai sore, bahkan sampai tengah malam di hari keduanya, mau ga mau gw harus setia dengan handycam, mantengin anak-anak SMA pada berdebat tentang APBN. Akhirnya di hari ketiganya baru gw bisa bernafas lega . Akhirnya bisa juga menikmati indahnya kota Banjarmasin sebelum kembali ke ibukota Negara tercinta.

Menurut gw Kota Banjarmasin biasa-biasa aja sih, ga terlalu banyak obyek wisata. Yang menarik dari Banjarmasin adalah : pasar terapung, surga belanja di Martapura (udah diluar kota Banjarmasin sih), jembatan barito (diluar kota juga), dan yang paling asyik menurut gw adalah langitnya. Langitnya keren gila, apalagi pas sunrise dan sunset, padahal ga lagi di laut. Tapiii, yang ga gw sukain dari Banjarmasin adalah mataharinya terik banget, panasnya minta ampun. Jakarta juga panas sih, tapi kayanya ga seterik di Banjarmasin deh. Kenapa ya? Apa semakin dekat sama garis khatulistiwa, mataharinya makin terik?

Oiya, sebagai informasi, pemenang lomba debat Olimpiade Membaca APBN wilayah Banjarmasin adalah SMAN 1 Banjarbaru. Disusul oleh SMA 6 Banjarmasin dan SMA 7 Banjarmasin. Dari awal gw emang berharap mereka menang sih, selain karena emang mereka benar-benar menguasai materi, jawabannya selalu nyambung sama topik, juga karena mereka itu anak-anak daerah (bukan kota besar maksudnya). Seneng aja, mereka bisa membuktikan bahwa anak daerah juga bisa bersaing dan mengalahkan anak-anak kota. Bisa jadi semangat buat anak daerah untuk terus maju. Untuk kategori Lomba menulis artikel tentang APBN, juaranya Ridha Evilina dari SMA 7 Banjarmasin, mengalahkan rekan satu sekolahnya Vivi Nadya Hasymi dan Mursyidah Pratiwi dari SMA 1 Banjarbaru. Juara 1 untuk masing-masing kategori akan maju ke babak final yang akan diadakan bukan Juni 2009 di Jakarta. Semoga sukses ya.

Beberapa jepretan gw :

Lomba Menulis Artikel Omasi 2009 Banjarmasin

Lomba Menulis Artikel Omasi 2009 Banjarmasin

Final Lomba Debat di TVRI Kalsel

Final Lomba Debat di TVRI Kalsel

Mentari Pagi Barito

Mentari Pagi Barito

Fajar di Barito

Fajar di Barito

Kesibukan Pagi Barito

Kesibukan Pagi Barito

Model dadakan. Caelah gayanya...

Model dadakan. Caelah gayanya…

Luasnya Barito

Luasnya Barito

Pulau Kembang

Pulau Kembang

Penghuni Asli Pulau Kembang

Penghuni Asli Pulau Kembang

Floating Tomb?

Floating Tomb?

Makam Sultan Suriansyah, penyebar Islam pertama di Banjarmasin.

Makam Sultan Suriansyah, penyebar Islam pertama di Banjarmasin.

Jembatan Barito nan Megah

Jembatan Barito nan Megah

Gerbang Pertokoan CBS Martapura. Keren, bertuliskan Alfatihah lengkap.

Gerbang Pertokoan CBS Martapura. Keren, bertuliskan Alfatihah lengkap.

Ketika Demam Facebook Melanda

April 1st, 2009

Sudah lama juga tak kutengok blog ini. Sejak beberapa minggu, atau mungkin bulan ini, hanya blogwalking dan ikut-ikutan latah ber facebook ria. Sebenarnya pas awal-awal demam facebook melanda, gw ga terlalu tertarik buat ikutan. Tapi setelah temen sebelah nampak asyik mengisi waktu luang untuk bermain game-game lucu di facebook, gw jadi tertarik untuk gabung di facebook.

Setelah itu, sebagian besar waktu luang gw isi dengan memelihara “Moi”-pet saya di Pet Society. Dan demam facebook pun semakin melanda, dan kata bos-bos di kantor mengurangi produktivitas pegawai di kantor. Mungkin benar juga, facebook menjadi sebuah virus yang begitu cepatnya menyebar, ga tua, ga muda semuanya sama aja. Bertemu dengan teman-teman lama di FB, yang sebelumnya lost contact, lalu asyik chat, memang mengganggu produktivitas kali ya. jadilah sejak 3 hari lalu, secara resmi, Pusat IT di kantor saya memblokir FB pada jam kerja.

Sebagian bersuka cita atas pemblokiran ini, dan sebagian lagi (lebih besar bagian ini nampaknya) berduka cita.  Ada juga yang biasa-biasa aja, kalo yang ini kaya’nya pihak-pihak yang selalu menggenggam blackberry di tangan, jadi jaringan kantor boleh memblokir, tapi kan ada si BB yang selalu siaga. Sebetulnya menurut gw facebook bermanfaat juga, kaya yang tadi udah gw tulis, bertemu teman lama, berkomunikasi dengan teman yang berada jauh di mata, dan kalau untuk gw yang terpenting ya itu, ber-pet society ria. Tapi kadang emang jadi ga penting juga kalau udah berlebihan. Misalnya, duduk satu ruangan, betuk aja kedengeran, tapi bales-balesan comment lewat FB. Ngapain coba?

Kalau gw sih sedih juga, harus menelantarkan “Moi” untuk sementara. Tapi gapapa lah, biarpun gw ga punya blackberry, kan sebelum jam kantor sama sepulang kantor masih bisa.

    /7091.jpg

    Saya hanyalah seorang wanita biasa, berusia 21 tahun, yang sedang berjuang menghidupi diri di rantau dengan mengabdi kepada bangsa dan negara tercinta.